Selasa, 15 Januari 2013

KEISTIMEWAAN HARI JUM'AT

Saudariku, kabar gembira untuk kita semua bahwa ternyata kita mempunyai hari yang istimewa dalam deretan 7 hari yang kita kenal. Hari itu adalah hari jum’at. Saudariku, hari jum’at memang istimewa namun tidak selayaknya kita berlebihan dalam menanggapinya. Dalam artian, kita mengkhususkan dengan ibadah tertentu misalnya puasa tertentu khusus hari Jum’at, tidak boleh pula mengkhususkan bacaan dzikir, do’a dan membaca surat-surat tertentu pada malam dan hari jum’at kecuali yang disyari’atkan. Nah artikel kali ini, akan menguraikan beberapa keutamaan-keutamaan serta amalan-amalan yang disyari’atkan pada hari jum’at. Semoga dengan kita memahami keutamaannya, kita bisa lebih bersemangat untuk memaksimalkan dalam melaksanakan amalan-amalan yang disyari’atkan pada hari itu, dan agar bisa meraih keutamaan-keutamaan tersebut. Keutamaan Hari Jum’at 1. Hari paling utama di dunia Ada beberapa peristiwa yang terjadi pada hari jum’at ini, antara lain: Allah menciptakan Nabi Adam ‘alaihissallam dan mewafatkannya. Hari Nabi Adam ‘alaihissallam dimasukkan ke dalam surga. Hari Nabi Adam ‘alaihissallam diturunkan dari surga menuju bumi. Hari akan terjadinya kiamat. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Hari paling baik dimana matahari terbit pada hari itu adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, dan pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga, serta diturunkan dari surga, pada hari itu juga kiamat akan terjadi, pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintannya.” (HR. Muslim) 2. Hari bagi kaum muslimin Hari jum’at adalah hari berkumpulnya umt Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam masjid-masjid mereka yang besar untuk mengikuti shalat dan sebelumnya mendengarkan dua khutbah jum’at yang berisi wasiat taqwa dan nasehat-nasehat, serta do’a. Dari Kuzhaifah dan Rabi’i bin Harrasy radhiyallahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah menyesatkan orang-orang sebelum kami pada hari jum’at, Yahudi pada hari sabtu, dan Nasrani pada hari ahad, kemudian Allah mendatangkan kami dan memberi petunjuk pada hari jum’at, mereka umat sebelum kami akan menjadi pengikut pada hari kiamat, kami adalah yang terakhir dari penghuni dunia ini dan yang pertama pada hari kiamat yang akan dihakimi sebelum umat yang lain.” (HR. Muslim dan Ibnu Majah) 3. Hari yang paling mulia dan merupakan penghulu dari hari-hari Dari Abu Lubabah bin Ibnu Mundzir radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Hari jum’at adalah penghulu hari-hari dan hari yang paling mulia di sisi Allah, hari jum’at ini lebih mulia dari hari raya Idhul Fitri dan Idul Adha di sisi Allah, pada hari jum’at terdapat lima peristiwa, diciptakannya Adam dan diturunkannya ke bumi, pada hari jum’at juga Adam dimatikan, di hari jum’at terdapat waktu yang mana jika seseorang meminta kepada Allah maka akan dikabulkan selama tidak memohon yang haram, dan di hari jum’at pula akan terjadi kiamat, tidaklah seseorang malaikat yang dekat di sisi Allah, di bumi dan di langit kecuali dia dikasihi pada hari jum’at.” (HR. Ahmad) 4. Waktu yang mustajab untuk berdo’a Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut hari jum’at lalu beliau Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Di hari jum’at itu terdapat satu waktu yang jika seseorang muslim melakukan shalat di dalamnya dan memohon sesuatu kepada Allah Ta’ala, niscaya permintaannya akan dikabulkan.” Lalu beliau memberi isyarat dengan tangannya yang menunjukkan sedikitnya waktu itu. (HR. Bukhari Muslim) Namun mengenai penentuan waktu, para ulama berselisih pendapat. Diantara pendapat-pendapat tersebut ada 2 pendapat yang paling kuat: a. Waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat jum’at Dari Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata padanya, “Apakah engkau telah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah sehubungan dengan waktu ijaabah pada hari jum’at?” Lalu Abu Burdah mengatakan, “Aku mendengar Rasulullah bersabda, ‘Yaitu waktu antara duduknya imam sampai shalat dilaksanakan.’” (HR. Muslim) Imam Nawawi rahimahullah menguatkan pendapat di atas. Sedangkan Imam As-Suyuthi rahimahullah menentukan waktu yang dimaksud adalah ketika shalat didirikan. b. Batas akhir dari waktu tersebut hingga setelah ‘ashar Dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.” (HR. Abu Dawud) Dan yang menguatkan pendapat kedua ini adalah Imam Ibnul Qayyim rahimahullah, beliau mengatakn bahwa, “Ini adalah pendapat yang dipegang oleh kebanyakan generasi salaf dan banyak sekali hadits-hadits mengenainya.” 5. Dosa-dosanya diampuni antara jum’at tersebut dengan jum’at sebelumnya Dari Salman Al-Farisi radhiyallahu ‘anhu mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah seseorang mandi pada hari jum’at dan bersuci semampunya, berminyak dengan minyak, atau mengoleskan minyak wangi dari rumahnya, kemudian keluar (menuju masjid), dan dia tidak memisahkan dua orang (yang sedang duduk berdampingan), kemudian dia mendirikan shalat yang sesuai dengan tuntunannya, lalu diam mendengarkan (dengan seksama) ketika imam berkhutbah melainkan akan diampuni (dosa-dosanya yang terjadi) antara jum’at tersebut dan jum’at berikutnya.” (HR. Bukhari) Amalan-Amalan yang Disyari’atkan pada Hari Jum’at 1. Memperbanyak shalawat Dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Perbanyaklah shalawat kepadaku setiap hari jum’at karena shalawatnya umatku akan dipersembahkan untukku pada hari jum’at, maka barangsiapa yang paling banyak bershalawat kepadaku, dia akan paling dekat derajatnya denganku.” (HR. Baihaqi dengan sanad shahih) 2. Membaca surat Al Kahfi Dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari jum’at akan diberikan cahaya baginya diantara dua jum’at.” (HR. Al Hakim dan Baihaqi dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani) 3. Memperbanyak do’a (HR Abu Daud poin 4b.) 4. Amalan-amalan shalat jum’at (wajib bagi laki-laki) Mandi, bersiwak, dan memakai wangi-wangian. Berpagi-pagi menuju tempat shalat jum’at. Diam mendengarkan khatib berkhutbah. Memakai pakaian yang terbaik. Melakukan shalat sunnah selama imam belum naik ke atas mimbar. Saudariku, setelah membaca artikel tersebut semoga kita bisa mendapat manfaat yang lebih besar dengan menambah amalan-amalan ibadah yang disyari’atkan. Sungguh begitu banyak jalan agar kita bisa meraup pahala sebanyak-banyaknya sebagai bekal perjalanan kita di akhirat kelak. Wallahu a’lam. Sumber:Muslimah.or.id

KEWAJIBAN MENEGAKKAN HUKUM ALLAH

Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir. (Al-Ma'idah:5:44) Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (Al-Ma'idah:5:45) Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik. (Al-Mai'dah:5:47) ASBABUN NUZUL Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata: Bahwasanya Allah menurunkan tiga ayat di atas ditujukan kepada dua golongan dari kaum Yahudi. Pada zaman Jahiliyah, salah satunya menundukkan yang lain. Dan akhirnya mereka sepakat bahwa hukuman orang bangsawan yang membunuh rakyat jelata adalah 50 gantang, sedang hukuman rakyat jelata yang membunuh kaum bangasawan adalah 100 gantang. Begitulah sampai kedatangan Nabi Muhammad SAW di Madinah. Keduanya akhirnya membuat perjanjian damai dengan Nabi. Tak lama kemudian timbul satu kasus, seorang rakyat jelata membunuh seorang bangsawan. Lalu bangsawan yang lain diutus kepada rakyat jelata tadi, ia berkata: Berikan kepada kami 100 gantang, si rakyat jelata, menjawab," Apakah ada keistimewaan?, kedua golongan kita agamanya satu, nasab kita satu, negeri kita satu; Kenapa diat sebagian mereka separoh dari sebagian lainnya? Sesungguhnya kami telah menyerahkan kezaliman dan diskriminasi kepada kalian. Jikalau Muhammad datang, maka kami tidak akan memberikannya kepada kalian". Hampir saja terjadi perang antara dua golongan (Yahudi) tersebut, lalu kedua golongan sepakat untuk menjadikan Rasulullah sebagai penengah mereka. Bangsawan berkata: Demi Allah, Muhammad bukanlah orang yang telah memutuskan suatu yang lemah sebagaimana kalian memutuskan. Perkataan Bangsawan ini dibenarkan mereka. Bangsawan berkata: sungguh apa yang telah kami putuskan adalah suatu kelaliman dan penaklukan atas mereka. Selundupkan seseorang yang mengetahui pendapat Muhammad. Jika Ia memberikan keputusan yang seperti yang yang kalian kehendaki, maka jadikanlah ia penengah, tapi jika ia memutuskan yang lain maka janganlah kalian jadikan dia penengah. Kemudian mereka menyelundupkan orang munafik untuk memberitahu kepada mereka pendapat Rasulullah. Ketika orang-orang munafik tadi sampai kepada Rasul, maka Allah memberitahukan tentang urusan mereka semuanya serta apa sebenarnya yang mereka kehendaki. PENJELASAN Terdapat perbedaan pendapat dikalangan Ulama tentang penafsiran ayat di atas. Fakhr ar- Razi, misalnya, menyatakan ada dua hal utama dalam memahami ayat-ayat di atas: Pertama, bahwa yang dimaksud firman Allah di atas adalah ancaman terhadap orang Yahudi atas keberanian mereka mengingkari hukum Allah yang telah dinashkan dalam Taurat, mereka berkata: Itu tidak wajib. Karena itulah mereka menjadi kafir secara mutlak. Mereka tidak berhak lagi menyandang gelar "iman", tidak berhak atas Musa dan Taurat, serta tidak berhak pula atas Muhammad dan Al-Qur'an. Kedua, Kaum Khawarij berpendapat bahwa setiap orang yang bermaksiat kepada Allah, maka ia kafir. sedangkan Jumhur berpendapat bahwa ayat tersebut merupakan ancaman bagi orang yang tidak berhukum dengan hukum Allah, maka ia menjadi kafir, zalim, dan fasik. Dua hal utama di atas dibahas oleh para mufassir klasik. Berikut ini ikhtisar pendapar para mufassir : 1) Sebagian Mufassir sepakat bahwa ayat ini khithabnya khusus. Tetapi mereka berbeda pendapat dalam menafsirkan kekhususannya. Ada yang berpendapat ayat ini untuk orang Yahudi semata. Pendapat ini didukung oleh Abdullah bin Abdullah bin Utbah bin Mas'ud. Hasan Basri berkata bahwa ayat tersebut ditujukan kepada orang Yahudi, tapi bagi muslim tetap wajib berhukum pada apa yang diturunkan Allah (bi ma anzal Allah). Ibnu Mansur, Abu Syekh, dan Ibnu Marduwaih meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ayat tersebut diturunkan Allah khusus untuk orang Yahudi. Mufassir yang lain berpendapat bahwa ayat tersebut untuk Ahli Kitab yakni Yahudi dan Nasrani. Ibnu Jarir meriwayatkan dari Abu Sholeh bahwa tiga ayat surat Al-Maidah tersebut tidak berlaku atas kaum muslimin, tapi untuk orang kafir, yakni Ahli Kitab. Ibnu Abbas berkata: Sebaik-baik kaum adalah kalian, apa yang baik itu bagi kalian, sedang apa yang buruk itu adalah buat ahli Kitab. Barangsiapa menentang hukum Allah sungguh ia telah kafir dan barangsiapa tidak berhukum dengan hukum Allah, maka ia telah berbuat zalim dan fasik. Ada yang berpendapat bahwa ketiga ayat tersebut memang bersifat khusus tetapi konteks ketiga ayat itu berbeda. Asy-Sya'bi, misalnya, ia berkata: Julukan kafir itu bagi orang Islam, zalim bagi orang Yahudi, dan fasik bagi orang Nasrani. Al-Zamakhsyari berkata bahwa tiga sifat yang dinisbatkan kepada orang kafir (Ahli Kitab) menunjukkan penghinaan terhadap mereka karena mereka melampaui batas dalam kekufuran mereka, perbuatan zalim mereka terhadap ayat-ayat mereka dengan ejekan dan keengganan mereka lalu mereka berhukum dengan selainnya. Ada juga yang berpendapat bahwa sifat kufur itu maksudnya adalah kufur nikmat. Fakhr ar-Razi menyatakan bahwa pendapat tentang ayat-ayat di atas berlaku khusus adalah lemah. Pertama: bertentangan dengan kaedah "al-'Ibrah bi 'umum al-lafdzi, la bi khushus al-sabab". Kedua, pendapat ini juga lemah sebab firman di atas memakai kata man yang menunjukkan sifat umum (sebagai syarat). 2) Sebagian mufassir berpendapat bahwa ayat di atas umum. Tetapi itu tidak berarti jika seorang muslim maka ia menjadi kufur. Thawus, misalnya, berkata: Ia tidak kafir seperti kafirnya orang yang pindah agama dan seperti orang kafir yang ingkar kepada Allah dan hari kebangkitan. Atha' berpendapat senada: muslim yang demikian menjadi kufur tetapi tidak kafir secara hakiki. Mereka seolah-olah menafsirkan yang dimaksud dengan kafir, zalim dan fasik adalah kafir, zalim dan fasik terhadap nikmat. Pengarang Tafsir Ruh al-Ma'any menjelaskan bahwa Abu Hamid dan lainnya meriwayatkan dari asy-Sya'bi, ia berkata tiga ayat di atas dapat dibedakan. Yang pertama (5:44) berlaku bagi muslim, sedangkan dua ayat berikutnya (5:45;47) Yahudi dan Nasrani, bahwa jika kufur tersebut dinisbatkan pada orang mukmin diartikan ancaman dan sikap keras. Tetapi jika sifat fasik dan kufur dinisbatkan pada orang kafir, hal itu berarti menunjukkan keingkaran dan keluarnya mereka dari hukum Allah. Riwayat lain, yaitu Hakim, Abdur Razak, Ibn Jarir dari Khuzaifah bahwa tatkala ia membacakan ayat di atas, tiba-tiba seorang laki-laki berdiri dan berkata: Ayat tersebut diperuntukkan untuk Bani Israel, lalu Huzaifah berkata: Sebaik-baik saudara adalah Bani Israel, jika kalian bahagia mereka susah. Perkataan Huzaifah di atas ditafsirkan sebagai kecenderungannya akan umumnya ayat tersebut. Ali Ibnu Husain meriwayatkan dengan pendapat umumnya ayat tersebut, tapi ia berkomentar: Kufur di atas bukan berarti kufur syirik, fasik bukanlah fasik syirik, dan zalim bukanlah zalimnya syirik. Pendapat yang paling kuat menurut Fakh ar-Razi adalah pendapat Ikrimah bahwa ayat tersebut umum bagi setiap orang yang ingkar dalam hatinya dan menentang dengan lisannya. Penulis sependapat dengan Ikrimah, tetapi persoalannya bagaimana dengan konteks keindonesiaan. Untuk menjawab ini, penulis merasa bahwa kita perlu mengembangkan adanya pendapat di masa kini, yakni lafaz bi ma anzala Allah dalam ketiga ayat di atas, sesungguhnya layak diperdebatkan. Apakah bi ma anzala Allah bermakna nashshan (secara teks nash) atau ruuhan (makna di balik teks nash, jiwa nash). Karenanya bisa saja ada hukum manusia (siyasah wadh'iyyah) bertentangan dengan hukum Allah secara teks nash; tetapi bersesuaian dengan ruh nash. Apakah kasus terakhir ini juga tetap terkena keumuman ketiga ayat di atas? Kemudian apa klasifikasi ruh nash itu? Dan apakah mungkin teks nash berbeda secara diametral dan konfrontatif dengan ruh nash? Tentu saja persoalan-persoalan ini membutuhkan kajian khusus yang lebih mendalam, yang tidak mungkin ada dalam tulisan sederhana ini. Al-Haq min Allah Senarai Rujukan: Tafsir al-Fakhr ar-Razy, juz 12, hal. 3 - 18 Tafsir Al-Maraghy, juz 6, hal 122-124 Tafsir Al-Qasimy, juz 6, hal 2000 -2001 Tafsir Ruh Al-Ma'ani (pada ayat-ayat di atas)

TAHUN BARU HIJRIAH:WASPADAI 19 PERKARA!

Tahun baru Hijriah, 1 Muharam adalah tahun baru Islam yang mengandung banyak makna bagi kita. Menyambut tahun baru Hijriah ini, mari kita lihat kembali sejarah tentang hijrah rasul dan pahami arti hijrah agar hidup kita menjadi lebih baik. Memasuki tahun baru Hijriah ini semoga kita benar-benar dapat berhijrah mina dzulumati ila nur, dari kegelapan menuju cahaya. Atau dari keadaan yang kurang baik menjadi lebih baik Inilah arti hijrah yang perlu kita targetkan dalam semangat tahun baru Hijriah. Untuk itulah, ada 19 pertanyaan penting yang perlu kita waspadai! Jika jawaban kita “belum” maka, itu harus menjadi pemicu hijrah di tahun baru Hijriah ini. 1. Sudahkah memahami makna syahadat tauhid? Syahadat adalah rukun Islam pertama. Syahadat tidak cukup diucapkan, tapi harus dipahami maknanya. Jika anda belum memahaminya, anda betul-betul perlu mengkajinya. 2. Sudahkah mengaplikasikan makna syahadat tauhid dalam kehidupan? Selain dipahami, tentu juga harus diamalkan. Syarat untuk dapat mengamalkan syahadat tauhid, tentu harus mengetahui maknanya terlebih dahulu. Baca artikel tentang makna syahadat tauhid di blog ini! 3. Sudahkah memahami makna syahadat rasul? 4. Sudahkah mengaplikasikan makna syahadat rasul dalam kehidupan? Ini tentang upaya mencontoh perilaku Rasul dalam berbagai aspek kehidupan. 5. Sudahkah belajar hadits-hadits tentang cara shalat Nabi dari awal hingga akhir? Rasul bersabda “Shalatlah seperti engkau melihat aku shalat” (HR Bukhari, Muslim, Ahmad). Perintah rasul ini artinya, agar kita melihat (mempelajari) hadits-hadits Nabi tentang shalat mulai dari awal hingga akhir. Mulai dari hadits tentang cara berdiri, hadits tentang cara mengangkat tangan, arah telapak tangan, kondisi jari-jari tangan, ketinggian, hadits cara sedekap, hadits tentang posisi kaki. Hadits tentang ruku, sujud, duduk antara… dst sampai hadits tentang salam. Jika kita tidak pernah belajar shalat Nabi (mempelajari hadits-hadtis shalat), maka besar kemungkinan shalat yang kita lakukan selama ini masih belum pas seperti yang Nabi contohkan. 6. Sudahkah bergaul, bicara, makan, minum, tidur, dll seperti cara Nabi? Tidak hanya cara shalat. Tapi kita juga harus melaksanakan aktifitas lainnya seperti cara nabi. Contoh, apakah kita sudah selalu minum dengan tangan kanan dan duduk? Coba perhatikan berapa banyak orang yang mengaku mukmin, tapi masih minum dengan tangan kiri. Coba selama beberapa hari ini anda amati perilaku orang yang makan-minum, termasuk mengamati diri sendiri! Hitung berapa orang yang makan/minum dengan tangan kiri atau dengan tangan kanan tapi sambil berdiri? Silakan hasil pengamatan anda ditulis di kolom komentar blog ini. 7. Sudahkah shalat berjamaah di masjid 5x/hari, 35x/minggu? 8. Sudahkah meningkatkan ukhuwah islamiyah? Ukhuwah Islamiyah, silaturahim adalah salah satu dampak positf shalat berjamaah. 9. Sudahkah berjuang untuk menikmati shalat khusyu? Sudahkah anda mengerti makna setiap gerakan shalat dan makna setiap bacaan shalat? Menurut anda, shalat yang lebih dapat dinikmati apakah: A. Shalat yang dilakukan tanpa mengetahui makna gerak dan bacaannya? atau B. Shalat yang dilakukan dengan mengetahui makna gerak dan bacaannya? Jika jawaban anda adalah B, pertanyaan nomor 9 ini perlu benar-benar anda perhatikan. Semoga tahun baru Hijriah ini akan membawa semangat baru untuk belajar menuju cahayaNya. 10. Sudahkah memahami dan menikmati setiap ibadah yang kita tunaikan? Setiap ibadah, hendaknya kita ketahui tata cara dan hikmahnya. 11. Sudahkah membayar zakat dengan benar? 12. Sudahkan membantu orang lain? Membantu orang lain adalah makna zakat yang perlu kita pahami. 13. Sudahkah melakukan puasa Ramadhan dengan baik? 14. Sudahkah bisa mengendalikan hawa nafsu, amarah dsb? Mengendalikan nafsu dan menahan amarah adalah salah satu hikmah puasa. 15. Sudahkah punya rasa peduli terhadap orang yang kelaparan? Rasa peduli terhadap sesama juga hikmah puasa Ramadhan. 16. Sudahkah melaksanakan ibadah haji? Ibadah haji adalah kewajiban (kebutuhan pokok), punya mobil adalah mubah, bukan kewajiban (kebutuhan tersier). Jika anda punya mobil tapi belum berhaji, maka waspadalah dengan ketentuan ini: “Barangsiapa yang memiliki bekal dan kendaraan untuk membawanya ke Baitullah tetapi belum juga pergi haji, maka tidak berat atas orang itu bahwa matinya dia (dihukumi) sebagai orang Yahudi atau orang Nasrani. Demikian itu sesungguhnya Allah berfirman di dalam kitab-Nya (Al-quran) “Dan Allah telah mewajibkan kepada manusia yang mampu di jalannya untuk pergi haji di Baitullah.” ( HR Tirmidzi). 17. Sudahkan berjuang di jalan Allah? Sudahkah berdakwah, membangun sarana ummat dll? 18. Sudahkah kita membuang sifat-sifat setan dalam diri kita? 19. Sudahkah kita memperbaiki dan meningkatkan amal untuk menghadapi mahsyar? Inilah 19 bahan renungan untuk berhijrah di tahun baru hijriah ini. Baca juga artikel menarik lainnya tentang tahun baru Hijriah yang berjudul “Cara Cerdas Mempertahankan Semangat Hijrah”. Selamat tahun baru Hijriah dan selamat berhijrah. Sumber:Akhmadtefur.com

MEMAHAMI MAKNA SYAHADAT RASULULLAH

Memahami makna Muhammadarrasuulullaah adalah perkara yang sangat penting dan mendesak bagi seorang muslim dan muslimah untuk memahaminya. Tidak cukup seseorang hanya sekedar mengucapkannya saja akan tetapi wajib bagi dia untuk memahami maknanya dan mengamalkan kosekuensinya secara lahiriah dan bathiniah. Adapun makna Muhammadarrasuulullaah yaitu, “Pengakuan dengan lisan dan diimani dengan hatinya bahwasannya Muhammad bin ‘Abdullah al Quraisy al Haasyimiy adalah Rasuulullaah (utusan Allah) untuk seluruh makhluk dari jin dan manusia.” (Syarh Al Ushuul Ats Tsalaatsah, Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin : 261) Berkata asy-Syaikh Al Allamah Shalih al Fauzan hafidzahullah tentang makna Muhammadarrasuulullaah yaitu : “ Pengakuan secara bathin dan secara dhahir bahwasannya dia (Muhammad) hamba Allah dan utusan-Nya yang diutus untuk manusia seluruhnya.” (Aqidah Tauhid : 40) Tentang makna ini Allah subhaanahu wata’aala berfirman : وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ “ Dan Kami tidaklah mengutusmu melainkan untuk seluruh manusia.” (Qs. As-Saba’:28) قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا “ Dan katakanlah (Muhammad) : ‘Hai manusia! Sesungguhnya aku ini utusan Allah kepada kamu semua.’” (Qs. Al A’raf : 158) Dan dalam sebuah hadits, Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam bersabda : “… dan Aku diutus kepada makhluk seluruhnya.” (HR. Muslim dari shahabat Abu Hurairah) Dalam hadits yang lain Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam bersabda : “ Dahulu para nabi diutus khusus untuk kaumnya saja, sedangkan aku diutus untuk seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim) Inilah makna Muhammadarrasuulullaah yang harus dipahami oleh seorang muslim. Seseorang dikatakan memahami makna syahadat yang kedua ini ketika dia memahami bahwasannya Nabi Muhammad shalallaahu ‘alahi wasallam adalah seorang manusia biasa, hamba Allah subhaanahu wa ta’aala yang tidak memiliki hak Rububiyah dan hak uluhiyah sekaligus beliau adalah seorang Rasulullah (utusan Allah) yang diutus untuk seluruh manusia. Hamba Allah yang tidak boleh disembah dan utusan Allah yang tidak boleh didustai. Makna Muhammadarrasuulullaah tidaklah sekedar ucapan saja tanpa kosenkuensi, bahkan makna Muhammadarrasuulullaah mempunyai kosekuensi yang harus dipahami dan diamalkan. Dibawah ini adalah kosekuensi dari makna Muhammadarrasuulullaah : Pertama : Menaati perintah Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam. Seseorang yang mengucapakan syahadat Muhammadarrasuulullaah maka wajib untuk menaati Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam hal ini merupakan konsekunsi dari syahadatnya. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ [آل عمران:31] “ Katakanlah (wahai Muhammad) : ‘Jika kamu mencintai Allah ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha pengampun lagi Maha Penyayang.’” (Qs. Ali Imran : 31) Ketaatan kepada Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam merupakan ketaatan kepada Allah subhaanahu wa ta’aala dan kedurhakaan kepada Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam merupakan kedurhakaan kepada Allah subhaanahu wa ta’aala. Sebagaimana Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman tentang hal ini: مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا [النساء:80] “ Barangsiapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (Qs. an Nisa’ : 80) وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللهِ [النساء:64] “ Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah.” (Qs. an Nisa’ : 64) وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَإِنَّ لَهُ نَارَ جَهَنَّمَ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا [الجن:23] “ Dan barangsiapa yang yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya dia akan mendapatkan (adzab) neraka Jahannam.” (Qs. al Jinn : 23). Kedua : Membenarkan apa yang dikhabarkan oleh Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam. Ketika seseorang mengikrarkan bahwasanyya Nabi Muhammad shalallaahu ‘alahi wasallam adalah utusan Allah maka wajib baginya untuk membenarkan khabar-khabar yang datang dari Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam. Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى [النجم :4-3] “ Dan tidaklah yang diucapkannya itu (al Qur’an) menurut keinginannya, tidak lain (al Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Qs. an Najm : 3-4) Dalam sebuah hadits Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam bersabda : “… tidakkah kalian mempercayaiku sedangkan aku adalah kepercayaan Dzat yang berada di atas langit? datang kepadaku khabar dari langit setiap pagi dan sore.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id al Khudry Radiyallaahu ‘anhu) Ketahuilah bahwasannya Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam mengkhabarkan kepada kita tiga perkara : Bahwasannya Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam mengkhabarkan kepada kita tentang dien (agama) ini, tentang rukun islam, rukun iman, perintah dan larangan. Mengkhabarkan tentang perkara-perkara yang terjadi di masa lampau dari ummat para Nabi terdahulu dan yang lainnya. Mengkhabarkan tentang perkara yang akan datang, tentang tanda-tanda kiamat, adzab dan nikmat kubur, tentang surga dan neraka dan perkara yang lainnya. Ketiga : Meninggalkan apa yang beliau shalallaahu ‘alahi wasallam larang dan peringatkan. Tentang hal ini Allah subhaanahu wa ta’aala berfirman : وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا [الحشر:7] “ Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah.” (Qs. al Hasyr : 7) Berkata asy-Syaikh Al Allamah Shalih Abdul ‘Aziz Alu Syaikh hafidzahullah : “ Dan apa yang datang dari Rasul dari perintah-perintah atau khabar-khabar maka ambilah dalam rangka menjalankan perintahnya dan membenarkan khabarnya dan apa yang kalian dilarang darinya maka tinggalkanlah, dan apa yang kalian dilarang darinya maka wajib atas kalian untuk meninggalkannya dalam rangka taat kepada Allah.” (Syarah Al Ushul Ats Tsalatsah, Syaikh Shalih Alu Syaikh : 296) Keempat : Tidak beribadah kepada Allah subhaanahu wa ta’aala kecuali dengan apa yang diajarkan oleh Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam. Tentang hal ini asy-Syaikh Muhammad Aman Jami’ Rahimahullah berkata: “ Poin ini sangatlah penting dikarenakan banyak diantara manusia telah menaati Rasul-Nya dan tidak mendustakannya, dia telah meninggalkan banyak hal dari larangan-larangan dan mengerjakan perintah, akan tetapi dia beribadah kepada Allah tidak terikat dengan apa yang datang dari Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam, dari sini dia terjatuh kepada perbuataan bid’ah, beribadah kepada Allah dengan tanpa petunjuk di dalam ibadahnya, tidak sesuai dengan sunnah.” (Syarh Al Ushul Ats Tsalatsah : 77) Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam bersabda : “ Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada dasarnya dalam urusan (agama) kami maka amal itu tertolak.” (HR. Imam Muslim dari ‘Aisyah radhiyallaahu ‘anha) Kelima : Mendahulukan ucapan Rasulullah shalallaahu ‘alahi wasallam daripada ucapan siapapun. Hal ini merupakan konsekunsi yang sangat agung dari kalimat ini, sebagaimana Allah ta’aala berfirman : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ [الحجرات:1] “ Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat : 1) Berkata asy-Syaikh All Allamah ‘Abdurrahman As Sa’di Rahimahullah : “ Dalam ayat ini terdapat larangan yang sangat keras dari mendahulukan perkataan selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam atas perkataannya, ketika telah jelas sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam wajib bagi seseorang untuk mengikutinya dan mendahulukannya atas selainnya, siapapun orangnya.” (Taisiirul Karimir Rahman pada ayat ini) Inilah penjelasan dari makna Muhammadarrasuulullaah dan konsekuensinya yang harus dipahami dan diamalkan secara dzahir dan bathin.

20 MANFAAT BERDZIKIR

Apabila benar-benar mengerjakan dzikir menurut cara yang dikehendaki oleh Allah dan Rasul-Nya, sedikitnya ada dua puluh keutamaan yang akan dikarunikan kepada yang melakukannya, yaitu: mewujudkan tanda baik sangka kepada Allah dengan amal shaleh ini. menghasilkan rahmat dan inayat Allah memperoleh sebutan yang baik dari Allah dihadapan hamba-hamba yang pilihan membimbing hati dengan mengingat dan menyebut Allah melepas diri dari azab memelihara diri dari was-was syaitan khannas dan membenteng diri dari ma'syiat mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat. mencapai derajat yang tinggi disisi Allah memberikan sinaran kepada hati dan menghilangkan kekeruhan jiwa menghasilkan tegaknya suatu rangka dari iman dan islam menghasilkan kemulliaan dan kehormatan pada hari kiamat melepaskan diri dari rasa sesal memperoleh penjagaan dari para malikat. menyebabkan Allah bertanya tentang keadaan orang-orang yang berdzikir itu. menyebabkan berbahagianya orang-orang yang duduk beserta orang- orang yang berdzikir, walupun orang yang turut duduk itu tidak berbahagia. menyebabkan dipandang ahlul ihsan, dipandang orang-orang yang berbahagia dan pengumpul kebajikan. menghasilkan ampunan dan keridhaan Allah menyebabkan terlepas dari suatu pintu fasik dan durhaka. Karena orang yang tidak menyebut Allah (tidak berdzikir) dihukum sebagai orang fasik. merupakan ukuran untuk mengetahui derajat yang diperoleh di sisi Allah. menyebabkan para Nabi dan orang-orang mujahidin (syuhada) menyukai dan mengasihi. (Al Fathul Jadied: syarah At Targhieb Wat Tarhieb) Dengan sebagian manfaat yang tercantum diatas, layaklah jika dzikrullah didudukkan sebagai pintu pembuka jalan kebajikan dan jalan makrifatullah. Keutamaan-keutamaan tersebut bukan sekedar catatan yang menarik bagi kaum muslimin, akan tetapi hal tersebut bisa kita peroleh dan dirasakan dengan sebenar-benarnya, apabila kita serius dan sungguh-sungguh didalam melaksanakan amalan-amalan dzikir kpada Allah. Dalil-dalil yang Menganjurkan Dzikrullah Serta Ancaman Bagi Yang Meninggalkannya Surat Ali 'Imran (190-191) Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda dari orang yang berakal. (3-190) (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksaan neraka. Surat An Nisaa' (103) Maka apabila kamu telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring. Kemudian apabila kamu telah merasa aman, maka dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguh-nya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman. Surat Al Anfaal (45) Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak- banyaknya agar kamu beruntung. Al Munaafiquun (ayat 9) Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi. Al Mujaadilah (ayat 19) Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah; mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa golongan syetan itulah golongan yang merugi. Az zukhruf:36 Barang siapa yang berpaling dari ingat kepada yang maha pemurah, kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syetan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. An nisa 142 Sesungguhnya orang&endash;orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka . Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas, ... mereka bermaksud riya'(dengan shalat) dihadapan manusia, É tidaklah mereka menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali. Al baqarah 152 Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari (nikmatku) Al baqarah 200 Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga- banggakan) nenek moyangmu, atau bahkan lebih banyak dari itu. Al Ahzab 35 Laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang benar. Al Ahzab 41 Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir sebanyak-banyak nya. An Nur 37 Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) membayar zakat . mereka takut kepada suatu hari yang (dihari itu) hati dan penglihatann menjadi goncang . Al A'Raaf 205 Dan sebutlah (nama) Tuhanmu didalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut dan tidak mengeraskan suaramu, diwaktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (tidak berdzikir) Ar Ra'd:28 (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah, ingatlah, hanya dengan mengingat Allalh hati menjadi tentaram. Al Jumu'ah:9 Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk sembahyang pada hari jum'at, maka segeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.... Sumber:Laskar Islam

6 RAHASIA & KEUTAMAAN SHALAT DHUHA

Rahasia dan Keutamaan Shalat Dhuha – Shalat duha merupakan salah satu diantara shalat-shalat sunah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Banyak sekali penjelasan hadits yang telah menyebutkan berbagai keutamaan dan keistimewaan shalat Dhuha bagi siapa saja yang melaksanakannya. Berikut ini adalah beberapa hadits Rasulullah Muhammad saw yang menceritakan tentang keutamaan shalat Dhuha, di antaranya: 1. Sedekah bagi seluruh persendian tubuh manusia Dari Abu Dzar al-Ghifari ra, ia berkata bahwa Nabi Muhammad saw bersabda: “Di setiap sendiri seorang dari kamu terdapat sedekah, setiap tasbih (ucapan subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (ucapan alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (ucapan lailahaillallah) adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah. Dan dua rakaat Dhuha diberi pahala” (HR Muslim). 2. Ghanimah (keuntungan) yang besar Dari Abdullah bin `Amr bin `Ash radhiyallahu `anhuma, ia berkata: Rasulullah saw mengirim sebuah pasukan perang. Nabi saw berkata: “Perolehlah keuntungan (ghanimah) dan cepatlah kembali!”. Mereka akhirnya saling berbicara tentang dekatnya tujuan (tempat) perang dan banyaknya ghanimah (keuntungan) yang akan diperoleh dan cepat kembali (karena dekat jaraknya). Lalu Rasulullah saw berkata; “Maukah kalian aku tunjukkan kepada tujuan paling dekat dari mereka (musuh yang akan diperangi), paling banyak ghanimah (keuntungan) nya dan cepat kembalinya?” Mereka menjawab; “Ya! Rasul saw berkata lagi: “Barangsiapa yang berwudhu’, kemudian masuk ke dalam masjid untuk melakukan shalat Dhuha, dia lah yang paling dekat tujuanannya (tempat perangnya), lebih banyak ghanimahnya dan lebih cepat kembalinya.” (Shahih al-Targhib: 666) 3. Sebuah rumah di surga Bagi yang rajin mengerjakan shalat Dhuha, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di dalam surga. Hal ini dijelaskan dalam sebuah hadits Nabi Muahammad saw: “Barangsiapa yang shalat Dhuha sebanyak empat rakaat dan empat rakaat sebelumnya, maka ia akan dibangunkan sebuah rumah di surga.” (Shahih al-Jami`: 634) 4. Memeroleh ganjaran di sore hari Dari Abu Darda’ ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw berkata: Allah ta`ala berkata: “Wahai anak Adam, shalatlah untuk-Ku empat rakaat dari awal hari, maka Aku akan mencukupi kebutuhanmu (ganjaran) pada sore harinya” (Shahih al-Jami: 4339). Dalam sebuah riwayat juga disebutkan: “Innallaa `azza wa jalla yaqulu: Yabna adama akfnini awwala al-nahar bi’arba`i raka`at ukfika bihinna akhira yaumika” (Sesungguhnya Allah `Azza Wa Jalla berkata: “Wahai anak Adam, cukuplah bagi-Ku empat rakaat di awal hari, maka aku akan mencukupimu di sore harimu”). 5. Pahala Umrah Dari Abu Umamah ra bahwa Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa yang keluar dari rumahnya dalam keadaan bersuci untuk melaksanakan shalat wajib, maka pahalanya seperti seorang yang melaksanakan haji. Barang siapa yang keluar untuk melaksanakan shalat Dhuha, maka pahalanya seperti orang yang melaksanakan `umrah…” (Shahih al-Targhib: 673). Dalam sebuah hadits yang lain disebutkan bahwa Nabi saw bersabda: “Barang siapa yang mengerjakan shalat fajar (shubuh) berjamaah, kemudian ia (setelah usai) duduk mengingat Allah hingga terbit matahari, lalu ia shalat dua rakaat (Dhuha), ia mendapatkan pahala seperti pahala haji dan umrah; sempurna, sempurna, sempurna..” (Shahih al-Jami`: 6346). 6. Ampunan Dosa “Siapa pun yang melaksanakan shalat dhuha dengan langgeng, akan diampuni dosanya oleh Allah, sekalipun dosa itu sebanyak buih di lautan.” (HR Tirmidzi). Semoga sedikit kutipan mengenai Rahasia dan Keutamaan Shalat Dhuha ini bisa membuat kita lebih giat lagi dalam menjalankan shalat dhuha, dan bagi yang belum melaksanakannya bisa memulai untuk menjalankannya… Aamiin… Sumber:RAFAQO

Kata Mutiara Islam

Kata Mutiara Islam - Kata mutiara tentang hal yang bersifat rohani memang dirasa perlu, karena bisa lebih meningkatkan rasa iman kita kepada Allah.SWT. Memang rasa iman itu bisa diibaratkan dengan suatu tanaman, apabila tanaman tersebut tidak diberi pupuk secara rutin tidak akan tubuh dengan subur dan baik, nah pupuk itulah yang juga bisa diibaratkan dengan sebuat kata mutiara islam yang apabila kita selalu membaca kata mutiara ini pasti rasa jiwa kita semakin baik dan kokoh dalam menghadapi cobaan hidup serta tetap pada jalur yang lurus sesuai dengan ajaran Agama Islam


Berikut beberapa kata mutiara islam  :

Kata Mutiara Islam

Mendatangi peramal dan bertanya kepadanya tentang sesuatu lalu mempercayainya, maka shalatnya selama 40 malam tidak diterima. (HR. Muslim)

Kesulitan sebesar apapun akan terasa wajar bagi jiwa yang melebihkan syukur daripada mengeluh. Karena, bukan kebahagiaan yang menjadikan bersyukur, tetapi bersyukurlah yang menjadikan kita berbahagia..

Jiwa yang malas, tetap tersesat walaupun sudah sampai.
Jiwa yang tamak, tetap mengeluh diatas kekayaan.
Jiwa yang bersyukur, akan berbahagia bahkan diatas masalah. #syukur itu berkah


Jika ada musuh yang bisa mendekatkan kamu kepada Allah, maka hal itu lebih baik dari pada teman akrab yang menjauhkan kamu dari Allah. (Abul Hasan as-Sadzili).

Ya ALLAH, sesungguhnya aku memohon kecintaanMu dan kecintaan orang-orang yang mencintaiMu dan amal yang menyampaikanku pada cintaMu. Ya ALLAH, jadikanlah kecintaanku kepadaMu lebih aku cintai daripada diriku, keluargaku, dan air sejuk (harta)” (HR. Tirmidzi)

Cintailah kekasihmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu sekedarnya saja, siapa tahu nanti akan jadi kekasihmu.

Aku tertawa (heran) kepada orang yang mengejar-ngejar dunia padahal kematian terus mengincarnya, dan kepada orang yang melalaikan kematian padahal maut tak pernah lalai terhadapnya, dan kepada orang yang tertawa lebar sepenuh mulutnya padahal tidak tahu apakah Tuhannya ridha atau murka terhadapnya. (Salman al Farisi/Az Zuhd, Imam Ahmad)

Sesungguhnya apabila badan sakit maka makan dan minum sulit untuk tertelan, istirahat dan tidur juga tidak nyaman. Demikian pula hati apabila telah terbelenggu dengan cinta dunia maka nasehat susah untuk memasukinya. (Malik bin Dinar/Hilyatul Auliyaa’)

Tiada yang lebih baik dari dua kebaikan : Beriman pada Allah dan bermanfaat bagi manusia. Tiada yang lebih buruk dari dua kejahatan : Syirik pada Allah dan merugikan manusia.

Lelaki inggris bertanya: "Kenapa dalam Islam wanita tdk boleh berjabat tangan dengan laki2?"

Lelaki muslim menjawab: "Bisakah kamu berjabat tangan dengan ratu elizabeth?

Lelaki inggris menjawab: "oh tentu tidak bisa! cuma orang2 tertentu saja yg bisa berjabat tangan dengan ratu."

Lelaki muslim tersenyum & berkata:" Wanita2 dari golongan kami(Kaum muslimin) adalah para ratu, & ratu tidak boleh berjabat tangan dengan pria sembarangan (yg bukan muhrimnya")


Lalu Lelaki inggris bertanya lagi, "Kenapa perempuan Islam menutupi tubuh dan rambut mereka?"

Lelaki muslim tersenyum dan menunjukkan 2 buah permen, ia membuka bungkus permen yg pertama dan membiarkan permen yg kedua tertutup bungkusnya tiba2 dia melemparkan permen2 itu ke lantai yg sangat kotor.

Lelaki muslim bertanya: " Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen,maka permen mana yg akan anda pilih?"
Lekaki inggris spontan menjawab: "Tentu saja yg msh tertutup dg bungkusnya karena isinya tetap bersih dan tdk kotor.."

Dan Lelaki muslim berkata: " Begitulah cara kami orang muslim memperlakukan dan melihat perempuan dari golongan kami"

 Itulah kumpulan cerita dan kata mutiara islam semoga bisa menjadi penyejuk hati sobat semua dan bisa meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allaw SWT.